MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA DI 2016

 

Apa yang terjadi di  tahun 1928?

Sama seperti kita, mereka pun memperbincangkan cinta, seni, dan olah raga. Namun di bawah tekanan pemerintah Hindia Belanda, mereka berani berteriak ke dunia bahwa pemuda Indonesia bersatu.

sumber: Google
sumber: Google

“Tapi Minggu pagi, 28 Oktober 1928 itu, hampir semua penghuni Indonesische Clubgebouw tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka justru tampak ingin segera beranjak dari meja makan. Mungkin karena mereka sibuk ikut kongres, mungkin pula karena hidangannya tak menarik. Maklum, kualitas makanan pada hari itu menurun,” ujar dr. R. Soeharto, rekan Yamin yang kemudian menjadi dokter pribadi Bung Karno.

Yamin perlu segera merumuskan pikiran para pembicara Kongres Pemuda Indonesia II malam sebelumnya di gedung Katholieke Jongelingen Bond, Waterloopplein, Lapangan Banteng, Jakarta. Maklum, ia menjabat sekretaris panitia kongres. Ia sendiri malam itu berpidato panjang lebar tentang “Persatuan dan Kebangsaan Indonesia”, termasuk tentang perlunya bahasa persatuan untuk menyatukan seluruh kelompok dan suku di Indonesia.”

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

Sumber

Bagaimana keadaan pemuda pemudi di 2016 ini?

Kompas melakukan survei pemuda yang dimuat dalam artikel berjudul  “Perjuangan Pemuda Pada Era Digital” tanggal 26 Oktober 2016.

“Dalam hal orientasi perjuangan, sebagian besar responden melihat para pemuda sekarang cenderung egois.” Hampir 70% responden melihat kecenderungan oerientasi pemuda kepada diri sendiri.

Merebaknya media sosial membuat intensitas keterlibatan pemuda dalam aktivitas sosial di tengah masyarakat menurun. 58.5% responden merasa pemuda menggunakan medsos sebatas sebagai konsumen.
Hanya 40% responden yang merasa ormas yang ada di lingkungannya memberi manfaat positif. Fungsi organisasi kemasyarakatan kepemudaan masa kini senyampang terdengar dan hilang, tenggelam dalam agenda pragmatis.
Fungsi organisasi kemasyarakatan kepemudaan masa kini senyampang terdengar dan hilang, tenggelam dalam agenda pragmatis.

Bagaimana kita bisa membangkitkan kembali semangat persatuan yang diikrarkan di tahun 1928 itu?

 

Tanda tanda semangat bersama itu sebenarnya masih ada. Tetapi mungkin tujuannya kini berbeda. Tujuan utamanya mengisi saku, bukan menggapai kemerdekaan atau membantu sesama. Mengejar karir menjadi prioritas. Karir di perusahaan ternama yang menjanjikan keamanan kerja dan prestise. Pemuda pemudi terpaksa mengorbankan mimpinya membantu masyarakat demi sesuap nasi. Yang masih idealis terpaksa menyalurkan semangatnya di akhir pekan.

Kita beruntung di RUMA.

Idealisme kita tidak terkekang di waktu luang.

Kita berasal dari berbagai latar belakang, pekerjaan berbeda-beda bidang.

Kita punya satu misi dengan gotong royong memajukan ekonomi.

RUMA TeamRUMA HO Blitz

Di lapangan, para penyuluh kita mengukur jalanan, mencari komunitas dan calon-calon ketua arisan yang akan menjadi tonggak bagi anggota komunitasnya untuk mencapai hidup yang lebih mapan.

Tidak lain dengan para engineers di kantor pusat, yang memastikan sistem berjalan dengan baik untuk kelangsungan kegiatan di lapangan.

Membangun aplikasi untuk membantu manusia, bukan menjadikan manusia budak aplikasi.

Begitu juga dengan tim lainnya. Masing-masing punya peran, tapi semua punya 1 agenda: menyediakan akses layanan yang membantu masyarakat Indonesia mencapai hidup mapan.

Tetap semangat!

Leave a Comment